Sabtu, 11 Juni 2011

Enigma dan Skema

oleh Muhammad Al-Fayyadl pada 11 Juni 2011 jam 16:18 ~ Muhammad Al-Fayyadl Kreativitas bermula dari enigma. Ia mencuat dari suatu dorongan yang tak tertanggungkan untuk mengungkapkan diri, suatu naluri yang mendesakkan dirinya dari dalam ke luar, sebelum mewujud pada gilirannya dalam sebuah inskripsi, “teks”, karya. Dalam hal ini, ia membedakan dirinya dengan skema. Sementara enigma mencoba-coba untuk mencari bentuknya dari dalam ke luar, skema telah terlebih dulu berbentuk; ia telah mewujud di luar sebagai suatu realitas yang menampilkan dirinya dalam rumusan yang telah ada—meski tak tentu “jadi”. Fakta bahwa ia telah ada membedakan dirinya dengan enigma, yang muncul dari Entah, yang belum pernah ada tetapi tiba-tiba ada. Skema hadir tepat ketika kita membutuhkan pegangan. Ia hadir karena ketidakmampuan kita menahan desakan-desakan tak menentu yang meluapi rongga-rongga pencarian kita yang terjauh dan terdalam, juga ketidaksabaran dan ketergesaan sebagian diri kita untuk segera menemukan pengungkapannya. Kekukuhan, keanggunan, dan kesempurnaan skema, detail-detailnya, rinciannya; kerigidannya dalam memilah, kejeliannya dalam menampakkan aspek-aspek yang tersembunyi dari pemikiran—semua itu memukau penggambar maupun pencari skema. Dalam keberhasilannya menampilkan secara skematis suatu konsep, suatu tema, atau suatu bahan pemikiran, skema menghadirkan kepada kita apa yang sering kita sebut kerangka kerja, suatu pegangan yang siap untuk ditindaklanjuti menjadi sebuah program, sebuah proyek, atau agenda untuk “dikonkretkan”. Kelugasan skema, keterusterangannya yang tanpa aling-aling mengeksplisitkan segala renik dan detail dari pikiran, memberi kita gambaran yang utuh, dan seakan-akan tanpa bayangan, tentang suatu hal. Dalam hal ini, skema memang diperuntukkan untuk memuaskan kehausan kita akan kejelasan. Tugas seorang penskema adalah memberikan kejelasan itu sejelas-jelasnya agar sang audiens, sang penglihat, dapat langsung menangkap poin ke mana pembicaraan itu akan digerakkan. Skema dibuat, memang, untuk menangkap waktu. Di zaman ketika waktu berkejaran dengan ide, dan ide berkejaran dengan waktu, skema terasa amat membantu. Sementara kita semakin menyadari bahwa usia kita terus memendek, seperti seutas sumbu yang terus dirambati api, dan bahwa kita tak punya banyak waktu, muncul obsesi untuk menghemat juga cara menyampaikan ide. Skema menemukan tempatnya dalam kekusutan rasa cemas tak punya cukup waktu dan kegairahan untuk segera meringkas ide ini. Dengan kata lain, skema sebenarnya adalah sebentuk “ekonomi ide”, cara paling praktis untuk merepresentasikan ide dalam suatu gambaran. Suatu cara untuk, pada saat yang sama, menghindari abstraksi, kekaburan, dan kegelapan. Maka, lupakan sejenak pesona pemikiran, jika kita masih memandang bahwa pesona suatu gagasan dapat memancar dari suatu abstraksi, dari spekulasi dan imajinasi tentang yang belum ada, mengingat hal itu akan jarang ditemui lagi di zaman ketika skema membentuk cara seseorang merepresentasikan segala sesuatu. Kegemaran akan kerangka telah meminggirkan pelan-pelan kepuasan yang didapatkan dari pencarian kata-kata, percobaan komposisi dan dekomposisi, dan kepekaan pada pilihan setiap kata yang menyusun sebuah tulisan, telaah, atau karya. Bagi seorang penulis, ada ketercerabutan tersendiri dari menulis di Era Aksara ke menulis di Era Skema seperti saat ini: ia semakin merasa mudah menemukan kerangka apa yang akan ditulisnya, dan mudah untuk dapat segera menuliskannya dan menghadirkannya ke sidang pembaca, namun ia semakin sulit untuk memberi daging bagi kerangka itu, daging yang pekat, berotot, dan tebal, agar ia dapat sebisa mungkin menyamarkan kerangka di baliknya. Era Skema memang melahirkan tipe penulis baru: penulis yang karya-karyanya begitu tembus-pandang hingga dapat langsung diterawang skema apa yang menggerakkannya. Boleh jadi, ada kesuntukan tertentu di antara para penulis hari ini pada kata-kata, yang terus seperti kehilangan dayanya untuk mengejar kenyataan. Atau, ada keterpesonaan pada dimensi visual gambar-gambar, yang, di satu sisi, memenuhi seluruh pengindraannya dan membuatnya tak lagi sepenuhnya percaya pada kata-kata, atau, kalau cukup mujur, di sisi lain, terus menghantuinya untuk menemukan kata yang belum tergambarkan. Bagaimana mempertahankan gambaran-dalam-pikiran, yang belum mewujud ke dalam tulisan, di tengah lalu-lalang gambar-gambar yang terus membetot pengindraan, dan menjaga agar gambaran-dalam-pikiran itu tak hilang dan dapat terendap cukup lama untuk diolah? Dilema seorang penulis tepat berada di dalam dilema itu sendiri: keengganannya untuk menerima kenyataan bahwa menulis adalah sebuah risiko yang harus dijelajahi, bahwa menulis adalah sebuah peristiwa dalam letupan khaotik enigma, bahwa menulis mensyaratkan nyali yang cukup untuk berduel dengan kedalaman diri yang tak berdasar, untuk menangkap gaung dan sisa-sisa bisikan paling sunyi yang memantul dari rongga-rongga magma dalam pikiran. Pada risiko itu sebenarnya terletak punctum, puncak orgasmik yang menyebar pada titik-titik perjalanan komposisi dan dekomposisi kata-kata, pada setiap momen yang menyediakan kemungkinan terbaik dan terburuknya bagi si penulis—keberhasilan atau kegagalan. Skema tidak memungkinkan kita untuk mengalami momen itu; ia adalah antitesis bagi Momen. Skema memberikan jalan yang lebih lapang dan lengang, seperti sebuah jalan aspal, ke seberang ide yang ingin diraih. Janji setiap skema adalah garansi bahwa, dalam perjalanan itu, seseorang tak membiarkan waktu dan energinya mubazir untuk suatu permata ide yang akan segera ia dapatkan. Untuk itu, skema memberi kita sebuah gagasan tentang kepenulisan sebagai mesin (l’écriture machinale), mesin produktif bagi ide, juga ekonomi: dengan menghemat energi dan waktu, produksi ide akan berlangsung lebih lancar, tanpa meraba-raba. Deram laju mesin itu menggoda seseorang untuk cepat “sampai” dan “menghasilkan”. Tapi, tepat di titik di mana ia “sampai” dan “ber-hasil”, enigma menghilang, tak terdengar. Seperti tawa seorang anak-anak yang tenggelam di keramaian. Atau igauan seorang petidur di sebuah malam panjang yang ingar-bingar.***

dikutip oleh : Fauzan Abror

Tidak ada komentar:

Posting Komentar